Friday, 30 September 2022
ad

Cegah Penyalahgunaan, Kemenag Minta Laporkan Jumlah dan Nomor Perforasi Buku Nikah yang Dicuri

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Jakarta, Bimas Islam --- Akhir-akhir ini, pencurian buku nikah sering terjadi. Salah satu motif utama pencuri buku nikah adalah untuk diperjualbelikan ke penyedia jasa kawin kontrak. Setidaknya ada dua kasus dalam sebulan terakhir yakni pencurian ratusan buku nikah di sejumlah KUA yang ada di Yogyakarta, dan terbaru pencurian ribuan buku nikah di Kemenag Kabupaten Bungo, Jambi.

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag, Muhammad Adib mengatakan, untuk mencegah penyalahgunaan buku nikah yang dicuri itu, maka penting untuk melaporkan jumlah kehilangan dan nomor perforasi buku nikahnya ke Kementerian Agama. Langkah tersebut diambil sebagai upaya memproses buku nikah yang dicuri untuk kemudian dinyatakan tidak sah atau tidak berlaku.

“Laporkan ke polisi, lalu catat berapa buku nikah yang hilang berikut nomor perforasinya kemudian laporkan ke Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah. Setelah kita proses, maka buku nikah yang hilang itu dinyatakan tidak berlaku,” ujar pria yang akrab disapa Gus Adib dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (5/11).

Menurut Gus Adib, nomor perforasi buku nikah ini berguna sebagai salah satu pengaman untuk menghindari pemalsuan. Sepasang buku nikah yang asli tidak akan memiliki angka yang sama dengan buku nikah pasangan lainnya. Angka ini mempunyai dua buah kode huruf sebelumnya sebagai salah satu tanda dan kode kemudian lanjut dengan sembilan digit angka.

Gus Adib menambahkan, pemalsuan atau pencurian buku nikah selalu terjadi. Seperti halnya uang, serumit apa pun pengaman yang dibuat, modus pemalsuan selalu ada. Oleh sebab itu, yang tak kalah penting adalah mengetahui bagaimana cara cepat mendeteksi otentisitas dokumen tersebut.

"Terkait buku nikah yang dicuri, perlu diwaspadai pemanfaatan buku curian tersebut untuk tujuan-tujuan pemalsuan data nikah oleh pihak yang tidak berwenang. Untuk mengetahui secara cepat buku aspal itu, dapat melacaknya melalui barcode yang tertera di buku yang langsung terhubung ke database Simkah. Jika buku berikut data itu memang benar-benar dikeluarkan oleh KUA, pasti datanya tersimpan dalam simkah," urainya.

Selain kode dan nomor buku, pihak yg berkepentingan dapat melacak keaslian dokumen melalui nomor register. Jadi, kecocokan antara kode, perforasi, dan register merupakan kunci mengetahui keaslian dokumen nikah. Nomor register nikah merupakan rangkaian angka dengan kode tertentu sehingga menghasilkan nomor register yang unik.

"Masyarakat juga dapat mengetahui keaslian buku dengan mencocokkan kode dan nomor perforasi dengan instansi penerbitnya. Buku nikah menggunakan kode huruf dan nomor tertentu yang disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Jika diketahui bahwa kode dan nomor itu tidak sesuai dengan instansi penerbitnya, hampir dipastikan bahwa buku itu palsu," katanya.

(Rendi)

Sumber : bimasislam.kemenag.go.id